WHAT'S NEW?
Loading...

Keindahan Rafflesia Arnoldii Bikin Kagum Wisatawan Asing

TREVACATION, Tiga wisatawan asal Spanyol mengagumi keunikan dan keindahan bunga padma raksasa langka Rafflesia arnoldii yang mekar di kawasan Hutan Lindung Bukit Daun Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.

"Sangat indah dan unik, baru pertama kali melihat bunga Rafflesia ini," kata Ghian, satu dari tiga wisatawan asal Spanyol, saat melihat keunikan bunga Rafflesia di Kepahiang, Rabu (29/4/2015).

Dia bersama dua orang rekannya yang lain, Ivank dan Brain, merupakan surfer atau peselancar yang sudah menjajal ombak perairan Bengkulu.

Namun, informasi tentang bunga Rafflesia yang sedang mekar di wilayah Kabupaten Kepahiang, membuat mereka tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut dan mendatangi habitat puspa terbesar di dunia itu.

"Saya sangat senang bisa melihat langsung bunga terbesar di dunia ini, mudah-mudahan habitatnya tetap terjaga," ujar Ivank.

Koordinator Kelompok Peduli Puspa Langka Tebat Monok Kepahiang, Holidin mengatakan dalam dua pekan terakhir ada tiga kuntum bunga Rafflesia yang mekar di Hutan Lindung Bukit Daun. "Dua bunga mekar bersamaan, lalu dalam jarak empat hari, satu kuntum mekar lagi, jadi ada tiga kuntum," ujarnya.

Holidin mengatakan Hutan Lindung Bukit Daun di Kabupaten Kepahiang berjarak 50 kilometer dari Kota Bengkulu merupakan salah satu habitat kunci bunga Rafflesia arnoldii. Kerusakan hutan akibat perambahan liar menjadi ancaman utama kelestarian bunga Rafflesia yang menjadi ikon Bengkulu dan dikenal dengan sebutan Bumi Rafflesia.

Kafe Sibu-Sibu Sajian Ambon Manise

TREVACATION, tradisional khas Maluku berbahan sagu menjadi sajian utama di Kafe Sibu-Sibu di tengah kota di Ambon. Bagi warga Maluku, termasuk yang di perantauan, makanan dari bahan sagu menjadi obat rindu pada masa lalu.

Sepiring jajanan tradisional khas Maluku tersaji di atas meja. Bentuknya sangat beragam meski dibuat dengan bahan baku yang sama, yaitu sagu. Bahan baku yang menjadi makanan utama masyarakat di sekitar Maluku.

Ada yang berbentuk segitiga berwarna kecoklatan, atau yang berbentuk bintang berwarna kuning kecoklatan. Ada lagi yang berbentuk kotak berwarna coklat dan jajanan yang berbentuk tidak beraturan di atas talam daun pisang.

Orang Ambon mengenal jajanan tersebut dengan berbagai nama. Kue sagu kenari atau kue talam sagu, kue bintang kenari atau cake sagu, lalu juga kasbitone dan koyabu. Kue talam sagu dan cake sagu berbahan dasar sagu, sementara koyabu dan kasbitone berbahan dasar singkong. Saat dicicip, rata-rata terasa manis. Cita rasa yang diperoleh dari penggunaan gula aren pada banyak makanan tradisional Nusantara.

Sagu yang merupakan bahan baku utama menjadikan jajanan tradisional itu terasa berat saat dikunyah. Makan beberapa potong saja rasanya kenyang seketika. Dalam piring yang lain, dua potong kue gulung berwarna putih kecoklatan dengan saus yang meleleh di sekitarnya terlihat sangat menggoda. Di Maluku, makanan itu dikenal dengan nama sinoli.

Sinoli menjadi sajian yang istimewa karena saat ini sinoli sudah sulit ditemukan, bahkan di pasar-pasar tradisional sekalipun. Jajanan ini terbuat dari sagu yang dicampur dengan parutan kelapa, pala bubuk, kenari, dan gula aren.

”Membuatnya dengan cara ditekan-tekan di wajan sampai tipis seperti dadar. Kalau sekarang, kan, mudah karena ada wajan antilengket. Lalu digulung dan disajikan dengan saus gula aren,” kata pemilik Kedai Sibu-Sibu, June (48). Tidak ada bahan tambahan lain, kecuali garam.

Tampilan menarik

Kue talam sagu terbuat dari sagu, santan, lalu gula aren dan sedikit kayu manis yang dimasak hingga kental. ”Setelah adonan kental, kemudian baru diletakkan di dalam wadah, lalu di atasnya diberi cacahan kenari,” kata June.

Sementara cake atau kue sagu terbuat dari sagu, kenari, dan gula aren. Sesuai dengan namanya, cara membuatnya seperti kue-kue lainnya dengan cara dioven. Yang membedakan adalah bahan bakunya yang didominasi sagu. Cake sagu disajikan dengan wadah kertas yang biasa digunakan menyajikan muffin.

”Sengaja dibikin dengan kemasan seperti ini supaya terlihat cantik dan menarik. Karena yang datang ke sini mulai dari anak-anak hingga anak- anak muda. Kalau makan dengan tampilan yang biasa saja, mereka tidak tertarik,” ujar June.

Jajanan dari olahan sagu semakin sedap dinikmati bersama secangkir kopi rempah rarobang yang menjadi kekhasan di Kafe Sibu-Sibu. Kopi rarobang diracik dari kopi Arabica pilihan dengan rempah-rempah berupa cengkeh, daun pandan, jahe, dan serai. Pengunjung umumnya menyukai kopi rarobang karena efek hangat yang ditimbulkan saat masuk ke dalam tubuh.

Angin Sepoi-sepoi

Menurut June, Sibu-Sibu yang memiliki arti angin sepoi-sepoi sudah berdiri delapan tahun lalu. Ide untuk menyajikan jajanan khas Ambon datang dari sang suami, Victor (50), yang merupakan penggemar musik.

”Dari awal berdiri, Sibu-Sibu memang menyediakan snack tradisional atau jajanan khas Ambon. Suami saya yang punya ide untuk bikin tempat yang bisa menampung banyak orang, yang di dalamnya menyediakan jajanan tradisional Ambon,” ujar June.

Terdapat lebih dari 10 jenis jajanan khas Ambon yang semuanya dibuat oleh tangan-tangan terampil mama-mama Ambon. ”Kami sengaja berdayakan ibu-ibu agar ada kesibukan. Mereka membuatnya di rumah, lalu membawanya ke sini,” kata June.

Dengan menyediakan jajanan tradisional khas Ambon, June dan Victor berharap masyarakat Ambon tidak lupa dengan makanan khas yang pernah menjadi bagian hidup mereka sejak kecil.

”Saat saya kecil, makan jajanan seperti ini juga. Ibu saya bikin koyabu atau kasbitone, tapi dibikinnya masih ala rumahan. Jadi, memang ada kerinduan yang muncul untuk kembali menikmati jajanan tradisional seperti ini,” kenang June.

Jajanan-jajanan tersebut umumnya dinikmati pada pagi dan sore hari, khususnya di kawasan pedesaan. ”Biasanya dimakan sambil minum kopi atau teh sambil ngobrol-ngobrol. Kadang juga sebagai pengganti nasi. Kalau orang Ambon perkotaan, sarapan paginya roti,” tutur June.

Festival Semarapura di Kabupaten Klungkung

TREVACATION, Festival Semarapura yang pertama kali di Kabupaten Klungkung, Bali, berlangsung empat hari, sejak Sabtu hingga Selasa (28/4/2015). Dengan menggelontorkan dana Rp 600 juta, pemerintah kabupaten setempat berupaya menggairahkan kreativitas masyarakat di bidang budaya, seni, dan kerajinan.

Namun, hujan yang turun beberapa hari terakhir mengurangi minat orang untuk berkunjung ke parade dan pameran kerajinan. Antusiasme masyarakat dan wisatawan masih belum tinggi.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta menyadari kekurangan penyelenggaraan festival seni dan budaya yang pertama kali pada 2015 ini. ”Kami akan mengevaluasi segala hal dalam festival ini. Kami berharap berbagai pihak memakluminya,” katanya.

Dia menjelaskan, festival ini dimaksudkan untuk memancing kreativitas masyarakat. Itu bukan hanya terkait seni, melainkan juga budaya secara luas, kerajinan, hingga kuliner.

Sukarata, warga Nusa Penida, menyambut gembira perhelatan ini karena merupakan festival seni dan budaya pertama yang melibatkan warga Nusa Penida, yang merupakan pulau terpisah dari daratan Bali. Bersama beberapa warga di pulau itu, Sukarata menampilkan beberapa tradisi, seperti sanghyang jaran. ”Kami tumben bisa diundang untuk tampil di kota. Biasanya, kami tidak pernah diundang karena mungkin harus menyeberang laut,” katanya.

Pada pembukaan Festival Semarapura di depan kantor bupati, sekitar 50 kilometer dari Kota Denpasar, Sabtu malam lalu, puluhan seniman tari, budaya, dan kesenian akulturasi dari warga banjar-banjar Klungkung menggelar parade seni budaya. Mereka menampilkan fragmen tari, akulturasi rudat, baleganjur, ogoh-ogoh, barong, serta sejumlah tradisi kuno, seperti sanghyang jaran dan barong landung.

Beberapa desa menampilkan tradisi kuno, seperti tari baris jangkang dan sanghyang jaran. Ajang seni budaya di Klungkung ini memperkaya festival budaya yang rutin digelar di Bali.

Bukit Cinta Di Manggarai Timur

TREVACATION, Tak banyak yang mengenal apalagi mengunjungi Tanjung Nanga Lok, Bukit Cinta dari Elar, Desa Gololijun, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, Flores, Nusa Tenggara Timur.  Kamis (9/4/2015) lalu, berawal dari informasi dari pemandu lokal sekaligus koordinator Dinas Pariwisata di Kecamatan Sambirampas, Arsyad dan Kepala Desa Nangambaur, Warka Jalu yang mendampingi tim ekspedisi Utara, kami mendatangi Tanjung Nanga Lok.

Berbekal dari informasi lisan saat mengunjungi pantai Pasir Putih Watu Payung, rombongan ekspedisi utara yang masih semangat bergegas dengan dua kendaraan menuju obyek wisata yang menakjubkan di wilayah utara Manggarai Timur tersebut.

Waktu itu, sebagian warga masyarakat di Pota, ibu kota Kecamatan Sambirampas masih tidur lelap dan sebagian lagi sudah bangun untuk menuju ke pantai menjemput para nelayan yang sudah berjuang bersama gelombang laut untuk menangkap ikan demi memenuhi kebutuhan keluarga dan pembeli di Pasar Pota.

Sementara itu sebagian lagi yang masuk dalam rombongan ekspedisi utara bergegas mengejar Sang Surya yang terbit pada pagi hari yang dapat dilihat dari pantai Pasir Putih Watu Payung, Desa Nangambaur. Tak sia-sia datang dari Borong, ibu kota Kabupaten Manggarai Timur dapat menikmati matahari terbit di pantai tersebut.

Selama ini warga di Kota Borong dan sekitarnya selalu mendengarkan cerita-cerita dari berbagai relasi dan keluarga yang pulang dari Sambirampas dengan menginformasikan keunikan-keunikan warisan dunia di alam Sambirampas, seperti matahari terbit di pagi hari maupun keindahan pantainya, batu berbentuk payung.

Ternyata, cerita-cerita yang dituturkan sangat sesuai dengan keunikan dan keindahan alam di Sambirampas. Di balik itu masih banyak yang  belum menginformasi satu dari obyek wisata di Kecamatan Elar. Tepatnya di jalur Jalan Negara Transflores bagian utara. Dari Pota dapat melintasi ke Elar menuju ke Pulau 17 Riung, di Kabupaten Ngada dan tembus ke Mbay, ibu kota Kabupaten Nagekeo.

Rombongan ekspedisi Utara untuk mengangkat potensi pariwisata yang masih tidur di Sambirampas melintasi jalan negara Transflores Utara yang beraspal mulus sehingga sopir yang membawa rombongan tidak mengalami kesulitan. Dari Pota ke desa Gololijun jalan beraspal hotmix. Namun melewati itu sampai di obyek wisata yang dituju belum diaspal dengan baik.

Selama ini Tanjung Nanga Lok, Bukit Cinta dari Elar hanya diketahui oleh orang-orang lokal yang melintasi jalan tersebut. Obyek wisata Tanjung Nanga Lok ini berada di pinggir jalan Negara Transflores Bagian Utara. Siapa pun yang melintasi di situ pasti mampir sebentar untuk menikmati keindahan laut biru dan melepas lelah dari perjalanan jauh akibat jalannya belum beraspal.

Rombongan ekspedisi Utara ini adalah semua orang baru yang mengunjungi sejumlah lokasi wisata di bagian Sambirampas dan Elar.

Berkali-kali kami berbisik dalam hati betapa indahnya potensi pariwisata di Manggarai Timur bagian Utara. Kami merasa bersyukur atas keindahan alam yang diwariskan Sang Pencipta bagi kemakmuran manusia Manggarai Timur di masa depan.

“Saya senang dengan kehadiran tim ekspedisi Utara yang terdiri dari wartawan dan Pemkab Manggarai Timur yang mulai memperhatikan potensi pariwisata di bagian utara kabupaten ini. Saya sudah merasakan betapa gemparnya berita Komodo Flores di Pota beberapa tahun lalu karena saya mendampingi wartawan dan peneliti asing. Saya yakin dengan kunjungan dari wartawan yang tergabung dalam tim ekspedisi Utara ini maka obyek-obyek wisata di bagian Utara akan perlahan-lahan ramai dikunjungi. Untuk itu, butuh kesiapan semua pihak, yakni masyarakat setempat, pemerintah setempat maupun instansi yang mengelola pariwisata,” paparnya.

Koordinator Dinas Pariwisata di Kecamatan Sambirampas, Arsyad menjelaskan, sejak bertugas sebagai tenaga harian lepas dan koordinator pariwisata di Sambirampas, baru kali ini dirinya mendampingi rombongan terbesar dari Borong, apalagi mendampingi wartawan yang sangat bermakna bagi publikasi pariwisata di Sambirampas dan Elar.

“Saya mendapatkan informasi dari Borong melalui komunikasi via telepon seluler bahwa akan ada kunjungan wartawan untuk meliput pariwisata di Sambirampas. Saya sangat senang dengan informasi itu, sebab saya tahu peranan wartawan dapat mempublikasikan secara luas keunikan dan keindahan pariwisata di Kecamatan Sambirampas dan Elar. Maka, sejak mereka tiba malam di rumah Jabatan Camatan Sambirampas, Rabu (8/4/2015) lalu, saya segera menemui rombongan tersebut,” kata Arsyad.

Salah seorang wartawan, Fansy Runggat menjelaskan, Tanjung Nanga Lok, Bukit Cinta dari Elar tak kalah dengan bukit cinta di Labuan Bajo. Selama ini orang menceriterakan Bukit Cinta dari Labuan Bajo, ternyata ada juga Bukit Cinta dari Elar.

“Liputan pariwisata di Sambirampas dan Elar sangat bagus di mana rombongan ekspedisi Utara menikmati keindahan dan keunikan alam yang belum dipublikasi secara luas. Kami berharap dengan dipublikasi secara luas tentang pariwisata di Sambirampas dan Elar dapat menggaet wisatawan asing dan domestik untuk mengunjungi obyek-obyek wisata yang masih asli,” katanya.

Cara Hemat Beriburan di Bali

TREVACATION, Harus diakui, Bali dalam dua tahun belakangan ini sudah sangat komersial. Semua kebutuhan dan perlengkapan liburan di Bali bisa dibilang selangit harganya. Maklum, Bali memang sudah destinasi wisata dunia. Baik wisata perorangan maupun jenis wisata lainnya seperti MICE atau bisnis. Bahkan Bali sudah masuk destinasi favorit untuk menggelar acara pernikahan, baik bagi orang Indonesia dan luar negeri.

Di satu sisi, kita patut bangga memiliki pulau dewata nan menawan ini. Di satu sisi orang Indonesia sendiri agak kesulitan untuk menikmati Pulau Bali. Alasan keuangan adalah yang utama. Tiket pesawat dan transportasi sudah mahal, sulit menemukan tiket pesawat yang ramah dengan kantong. Tiket promo pun kadang masih dirasa mahal.

Tapi jangan berkecil hati. Masih banyak cara untuk menekan bujet saat liburan di Bali. Walau banyak uang tersedot ke harga tiket, kita masih bisa menekan bujet di kebutuhan lainnya. Menekan bujet ini tidak harus mengurangi kenikmatan liburan juga kok.

Berikut beberapa tips dari KompasTravel saat liburan ke Bali, terutama kota Denpasar dan sekitarnya.

Paling mahal dan sulit untuk jalan-jalan di Bali adalah transportasi. Bus umum belum ramah dengan para turis atau tamu. Taksi untuk jarak dalam kota pun mahal sekali dibanding kota Jakarta. Dari kawasan pantai Sanur ke pantai Kuta saja misalnya, bisa sampai Rp 200.000 sekali jalan. Apalagi mau keliling kota atau jalan antar kota. Bisa sampai sejuta lebih perhari. Belum lagi ketersediaannya tidak selalu ada di beberapa tempat tertentu.

Bus umum yang mudah adalah Sarbagita, semacam bus trans dalam kota Denpasar. Bus Sarbagita adalah opsi yang bagus dan menarik, murah juga. Namun bus ini tidak bisa mencapai ke kawasan wisata yang jauh atau pedalaman.

Sewa motor adalah pilihan yang paling tepat. Harga murah, rata rata Rp 200.000 - Rp 300.000 perhari dengan sistem lepas kunci atau membawa sendiri dengan jaminan KTP atau lainnya. Kadang kalau beruntung atau di kawasan non komersial bisa mendapat harga sewa motor lebih miring lagi, sekitar Rp 150.000 per hari.

Bagi yang jalan rombongan bisa sewa mobil. Agak jarang menemukan sewa mobil dengan sistem lepas kunci. Biasanya harus sewa sopir sekalian tapi belakangan makin banyak juga sewa mobil dengan sistem sewa kunci ini. Jatuhnya bisa murah kalau patungan.

Hotel murah bukan berarti gaya backpacker

Dulu hotel murah pasti diartikan gaya backpacker. Tinggal di dorm, kecil, berantakan, dan lain lain. Sekarang sudah tidak zaman. Hotel murah tidak harus hotel backpacker. Di Bali, hotel macam ini banyak di kawasan pantai Kuta. Kawasan pantai Sanur juga sudah mulai banyak hotel murah.

Dengan harga Rp 150.000 – Rp 300.000 sudah bisa dapat kamar dengan ber-AC dan terpenting adalah bersih.  Tipsnya adalah rajin-rajinlah mencari informasi dan rekomendasi, pasti dapat. Banyak pelancong yang berani tanpa pemesanan, berputar-putar di kawasan Kuta dan bisa menemukan hotel murah.

Destinasi wisata gratis dan murah

Berwisata itu tidak harus ke tempat yang mahal dan mewah. Kalau mau yang gratisan juga ada dan mudah. Yang pasti, pantai di Bali itu gratis. Keindahan pantai Bali itu tidak membosankan, bahkan ngangenin kalau kata orang. Selalu membuat kita ingin balik lagi, apalagi suasana senja. Romantis.

Banyak yang mengatakan Kuta membosankan, berubah ramai dan kotor, kebanyakan bule-nya atau umpatan lainnya. Faktanya, Kuta tetap pantai eksotis favorit banyak wisatawan. Rasanya belum ke Bali kalau belum ke Kuta.

Pura Besakih dan  Tanah Lot misalnya, tiketnya masih di kisaran harga Rp 10.000 – Rp 20.000. Hanya beberapa yang mahal seperti Taman Safari atau taman Burung Bali yang tiketnya di atas Rp 100.000.

Makan di kedai atau warung 

Tips terakhir adalah makanlah di kedai atau warung biasa. Kedai macam ini banyak mudah ditemui di pinggir jalan. Hindari makan di kawasan wisata, biasanya mahal. Satu menu bisa sampai Rp 50.000 bahkan lebih.

Jalan saja sedikit keluar kawasan wisata, biasa ada kedai murah. Kalau makan di kedai biasanya sekitar Rp 20.000 – Rp 30.000. Kalau menu biasa saja juga bisa antara Rp 15.000 – Rp 20.000.

Menilik Keindahan Candi Sari

TREVACATION, Menelusuri jejak kebudayaan masa lalu Nusantara yang ada di sekitar Yogyakarta. Telah menjadi catatan sejarah bahwa di zaman dahulu pernah berkuasa sebuah dinasti yang meninggalkan berbagai macam kepingan kejayaannya di sini, di daerah yang dulunya dikenal dengan nama Mataram.

Di Kalasan, Sleman. Sebuah papan penunjuk mengisyaratkan bahwa tak jauh dari Jalan Raya Jogja-Solo ada sebuah peninggalan sejarah Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Sari namanya, terletak di Desa Bendan, Kalasan, Sleman. Candi Buddha ini berjarak 3,2 kilometer sebelah barat dari Candi Prambanan (sekitar 5 menit menggunakan kendaraan bermotor) atau 5,2 kilometer dari Bandara Adi Sucipto (6 menit menggunakan kendaraan bermotor).

Kekaguman langsung terluapkan saat pertama kali melihat Candi Sari, karena bentuk bangunan Candi Sari yang berjenis kuil bertingkat, tak seperti punden berundak. Dari depan, candi ini sudah terlihat bahwa bangunannya memiliki ruangan atas dan ruangan bawah.

Mengapa Candi Sari dibuat bertingkat? Adakah tujuan yang melatarbelakangi pembangunannya?

Cerita mengenai proses pembangunan Candi Sari terdokumentasikan melalui Prasasti Kalasan (700 Saka atau 778 Masehi). Konon pada abad ke-8 Masehi tersebut Maharaja Tejapurnama Panangkarana (Rakai Panangkaran) diberi nasihat oleh penasihat keagamaan agar mendirikan biara untuk para pendeta.

Candi Sari kemudian dibangun oleh Rakai Panangkaran untuk melaksanakan nasihat tersebut. Candi dengan kumpulan stupa kecil di bagian atasnya ini kemudian menjadi asrama bagi para biksu. Di tempat inilah, para biksu belajar, berdiskusi, melaksanakan kegiatan keagamaan, dan ditempa untuk kemudian mengajarkan ilmunya kepada masyarakat Mataram Kuno.

Dalam Prasasti Kalasan juga disebutkan bahwa selain membangun biara bagi para biksu, Rakai Panangkaran juga dianjurkan untuk membangun kuil sebagai tempat untuk memuja Dewi Tara. Maka dibangunlah Candi Kalasan, tak jauh dari Candi Sari. Pembangunan Candi Sari diduga berbarengan dengan masa pembangunan Candi Kalasan, maka tak heran jika banyak dijumpai kemiripan di antara kedua candi tersebut dari sisi reliefnya.

Kekaguman saya lainnya pada Candi Sari adalah pada keindahan relief yang terpahat di sekeliling Candi Sari baik pada dinding maupun arcanya. Candi Sari memiliki 36 buah arca yang ukurannya hampir sama dengan manusia secara umum yaitu 8 arca di dinding timur, 8 arca pada dinding selatan, 8 arca di dinding utara, dan 12 arca di dinding barat.

Selain arca, pahatan dengan berbagai bentuk juga memenuhi dinding Candi Sari. Relief Kinara Kinari, Suluran, Kumuda, dan Kalamakara yang sangat dekoratif sehingga tidak tampak seram menghias indah. Candi Sari juga memiliki keistimewaan seperti Candi Kalasan, yaitu pada dindingnya yang terlapisi Vajralepa. Lapisan inilah yang memberi warna cerah dan mengawetkan bebatuan Candi Sari.

Soto Tauco Dari Pekalongan

TREVACATION, Warung makan "Nino Tauto Pekalongan" berukuran mungil. Letaknya di depan Pasar PSPT, Tebet Timur, tepatnya di Jalan Tebet Timur Dalam Raya, Jakarta Selatan. Untuk orang Pekalongan di Jakarta, Warung Nino ini memang jadi tempat untuk kangen-kangenan dengan makanan Pekalongan.

Tauto alias soto berbumbu tauco khas Pekalongan. Warna kuahnya merah dengan aroma wangi yang sedap. Isiannya adalah suun dengan irisan daging sapi dan taburan daun bawang serta seledri yang banyak.

Sebetulnya tauto yang asli di Pekalongan memakai daging kerbau bersama jeroannya. Oleh karena itu, soto lalu dibumbui dengan tauco untuk mengurangi aroma daging kerbau. Namun karena tidak semua orang menyukai daging kerbau dengan seratnya yang kasar dan aromanya, daging sapi menjadi pilihan kondimen untuk tauto Pekalongan.

Kuah tauto berwarna menantang, merah! Cita rasanya sudah pasti menonjok di lidah karena campuran rempah yang membuat kuah tauto menjadi tajam pedas. Yang dominan memang cita rasa tauco Pekalongan ini yang menjadi penyeimbang rasa soto.

Meski kuahnya pedas, ada rasa manis yang akhirnya membuat lidah tak berhenti bergoyang. Tauco Pekalongan memang berbeda dengan tauco asal Cianjur atau Medan. Bulir kedelainya lebih besar, tauconya berwarna kemerahan, dan cita rasanya manis sedikit asin.

Karena rasa kuahnya yang nendang inilah, tauto biasanya harus disantap dengan sepiring nasi agar tidak kepedasan atau terlalu gurih. Selain dengan nasi, tauto juga serasi dipadankan dengan lontong atau ketupat. Silakan dipilih!

Makanan khas Pekalongan lainnya adalah nasi megono. Nasi putih dengan pendamping berupa nangka muda cincang yang dikukus bersama parutan kelapa, kecombrang dan rempah sehingga bercita rasa gurih dan pedas. Aroma yang menonjol adalah aroma kecombrang yang segar. Cita rasa megono pun menjadi asam segar.

Waung Nino yang bernuansa sederhana ini buka setiap hari kecuali hari Senin pada pukul 08.00-20.00 WIB. Kisaran harganya Rp 8.000-Rp 20.000.

Ayam Taliwang, Ayam Bakar Pedas Khas Lombok

TREVACATION, Saat disajikan di meja, aroma khas ayam bakar dengan aroma asap bakaran arangnya langsung terasa di hidung. Aroma yang membuat lidah semakin bergoyang dan perut semakin keruyukan.

Di lahapan pertama, yang paling terasa adalah sensasi pedasnya yang khas dengan campuran terasi asal Lombok, Nusa Tenggara Barat. “Terasinya asli Lombok," kata Danish, salah satu karyawan di Restoran Ayam Taliwang Baru di Jalan Teuku Umar, Denpasar, Bali.

Restoran ini hampir tidak pernah sepi dari pengunjung. Kebanyakan yang datang adalah masyarakat Bali dan turis domestik.

“Ada juga sih luar negeri dan bule-bule tapi kebanyakan ya lokal," ucap Danish. Tidak heran, sensasi pedasnya memang cocoknya buat lidah lokal dan Asia pada umumnya.

Walau berada di Bali, Ayam Taliwang di Restoran Ayam Taliwang Baru tidak jauh beda dengan Ayam Taliwang asli di Lombok, NTB. Ayamnya dibakar dan disajikan dengan pelecing kangkung dan sambal terasi Lombok. Pelecing kangkung adalah kangkung rebus yang dicampur dengan sambal tomat dan terasi. Di atasnya juga ditaburi kacang goreng. Sangat khas sekali.

Makan di restoran ini juga dijamin kenyang. Satu porsi Ayam Taliwang adalah satu ekor ayam kecil. Jadi bukan potongan badan ayam seperti paha, dada, atau sayap. “Ayamnya menggunakan ayam kampung yang belum tua,"

Kunci kelezatan sajian Ayam Taliwang memang berada di bumbu pedasnya. Walau sama-sama cabai pedas tapi campuran dan cara memasaknya membuat sambal asal NTB ini berbeda dengan sambal pedas asal daerah lain di Indonesia.

Satu bumbu yang membuat sambal memiliki khas sendiri adalah terasi. Terasi yang biasa untuk membuat ayam taliwang dan pelecing kangkung adalah terasi Lombok. Bahan dasar terasi ini sebenarnya sama dengan terasi lainnya seperti terasi Bangka atau Cirebon yaitu udang. Namun bahan racikan dan cara pengolahannya yang membuat berbeda.

Bagi yang tidak suka pedas, jangan khawatir. Di Restoran Ayam Taliwang Baru juga tersedia ayam bakar yang bumbunya sama dengan ayam taliwang namun tanpa pedas. Ada juga ayam sasak yaitu suwiran daging ayam yang dicampur dengan bumbu khas Lombok.

Jadi bagi yang tidak sempat ke Lombok, Mataram, Sumbawa atau kawasan di Nusa Tenggara Barat lainnya, Ayam Taliwang Baru di Bali ini bisa menjadi pelepas penasaran. Setidaknya bisa mencicipi kelezatan makanan khas Lombok yang terkenal yaitu Ayam Taliwang.

Menikmati Lontong Sayur Tauco dan Mi So

TREVACATION, Sesuai namanya, warung makan "Lontong Sayur Julia" mengandalkan lonsay alias lontong sayur. Hidangan sepinggan yang komplet, lontong dengan sayur labu siam, telur balado, kering tempe teri, dan taburan serundeng. Hal yang menjadinya istimewa adalah sambal cabai hijau berbumbu tauco Medan.

Seperti halnya cita rasa masakan Melayu Medan, kuah lontong sayur terasa gurih. Hal ini berkat santan dan imbuhan tauco Medan. Bulir kedelai pada tauco Medan besar dan tekstur tauconya juga lebih pekat. Cita rasanya pun sedikit manis.

Tauco ini tidak hanya ditambahkan pada kuah sayur labu siam saja, tetapi juga ditumis bersama cabai hijau besar hingga nyemek atau becek. Agak pedas namun dinetralisir oleh rasa manis dari tauco. Disantap selagi hangat dengan pelengkapnya, cuma satu kata yang terlontar, nikmat!

Ada juga mi so atau mi sop. Sup berkuah bening namun bercita rasa rempah yang pekat. Terdeteksi rasa kapulaga dan cengkih di dalamnya. Kondimen untuk mi so berupa mi kuning, tahu, suwiran ayam, dan taburan daun bawang serta bawang merah goreng.

Menyuap sesendok mi so ini akan memberikan rasa yang komplet. Kuahnya memang encer dan ringan. Makanya jika ingin mi so dengan cita rasa yang lebih “berat” bisa mencelupkan perdekel kentang ke dalamnya. Kentang otomatis akan menambah konsistensi kepekatan kuah mi so.

Atau, bisa juga dengan menyantapnya bersama satai kerang. Cita rasa satai kerang yang pekat juga akan otomatis melunak saat berpadu dengan kuah mi so yang encer.

Tentu saja, padukan semua hidangan ini dengan jus kiamboy yang segar. Rasanya sedikit masam sehingga cocok sebagai pengiring makan makanan khas Medan ini yang cenderung berbumbu pekat.

Mau mencoba sensasi lontong sayur ala Melayu Medan? Bisa datang ke Lontong Sayur Julia di Jalan Pahlawan Revolusi, Pondok Bambu, Jakarta Timur. Lokasinya di seberang Masjid Al Anwar. Harga menu yang ditawarkan Rp 3.000 hingga Rp 16.000. Hanya saja perlu diingat, secara lokasi, warung ini agak susah untuk parkir kendaraan roda empat.

Lezatnya Sate Rembiga

TREVACATION, NUSA Tenggara Barat dikenal sebagai ”Bumi Sejuta Sapi”. Daging sapi NTB rasanya lebih manis daripada sapi yang lain. Mari kita jajal sate di Warung Sate Rembiga di Jalan Rembiga di Mataram, Lombok, milik Hajah Sinasih.

Mengapa rasa daging sapi NTB begitu khas? ”Sapi ini dilepasliarkan di padang rumput. Sapi-sapi itu tidak dikandangkan atau diberi pakan dari pabrik, tetapi mereka merumput sendiri di padang sabana,” kata Budi Septiani, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB, mempromosikan ternak sapi di daerahnya.

Kami mencicipi manisnya sapi NTB di warung Hj Sinasih. Warung itu berada sekitar 30 meter dari pintu masuk ke Jalan Wahidin. Di sana kami menikmati sate rembiga dan semangkuk sop bebalung yang juga terbuat dari balung atau tulang-belulang sapi NTB.

Sebuah pondok dengan tempat perapian sate menyambut di bagian depan warung. Tiga perempuan dan seorang laki-laki membakar sate dan mengayun-ayunkan kipas. Sementara tempat makan berupa warung-warung kecil lesehan yang berderet memanjang di jalan masuk menuju pelataran rumah yang disulap menjadi tempat makan. Meja dan kursi ditata selayaknya warung di pelataran rumah itu.

”Saya memang kerja sama dengan pemilik rumah itu. Bagian depan rumahnya saya pakai untuk tempat makan pembeli. Kalau Sabtu-Minggu pembeli banyak dan mereka sampai kehabisan tempat duduk,” kata Sinasih (44).

Ada 20 pegawai warung yang siang itu melayani pengunjung. Warung sate buka mulai pukul 14.00 hingga pukul 21.30. ”Setiap hari selalu ada pembeli di sini. Hari Sabtu-Minggu yang paling ramai,” ujar Dedi (25), salah satu pegawai di warung Sinasih.

Setiap hari paling tidak 9.000 tusuk sate laku dijual di warung tersebut. Seporsi sate rembiga berisi 10 tusuk dihargai Rp 20.000. Meskipun ada juga pepes ikan tenggiri, sate ati ampela, dan sate urut, yakni sate daging sapi berbalut kelapa, pembeli paling banyak membeli sate rembiga. ”Di sini memang yang paling digemari sate rembiga. Sop bebalung dan masakan lain masih kalah,” tutur Sinasih, ibu empat anak ini.

Keutamaan bumbu

Untuk mendapatkan rasa sapi terbaik, Sinasih memilih daging segar. Dalam sehari, ia memerlukan 70-80 kilogram daging. Daging diolah dengan cara ditumbuk supaya tidak keras saat ditusuk dan empuk dinikmati. Setelah itu daging direndam selama dua jam di dalam bumbu yang diracik dari cabai merah kering, terasi, bawang putih, dan gula merah. Sinasih sendiri yang meracik bumbu satenya.

Bumbu rendaman itu penting karena memberikan rasa yang utama pada daging. Saat dihidangkan, sate rembiga sudah tidak dilengkapi dengan bumbu apa pun. Rasanya pedas dan manis di lidah. Tekstur dagingnya empuk dan ketiadaan bumbu tambahan di piring ternyata tidak menjadi kekurangan. Rasa daging sudah kuat tanpa bumbu.

Sop bebalung menggenapi kenikmatan kuliner di NTB. Rasakan sensasinya ketika menyedot isi sumsum sapi, sruuupp... sruuuppp.... Lemak pada kuah daging terkalahkan oleh bumbunya yang khas dan segar karena ada tambahan asam dan lengkuas. Merica atau lada tidak terlalu mencolok rasanya dalam racikan bumbu sop bebalung. Bonusnya lagi, banyak daging di dalam sop, bukan hanya balung.

Sate rembiga disajikan bersama lontong bulayak, yakni lontong dengan bungkus daun aren memutar ke atas sehingga di bagian ujung hampir lancip menyerupai kerucut. Sate rembiga biasanya dinikmati bersama lontong bulayak itu. Namun, untuk pesanan tertentu, warung Hj Sinasih juga menyediakan nasi bagi pembelinya.

Sinasih mempelajari resep sate rembiga dari Hj Nafisah, kira-kira 25 tahun atau 30 tahun lalu. Saat itu ia masih muda dan baru belajar bekerja pada orang lain. ”Dari Hj Nafisah itulah saya belajar membikin sate rembiga. Dia ketika itu punya warung sate besar,” ujarnya.

Setelah lima tahun bekerja pada Nafisah, Sinasih mencoba membuka warung sate sendiri. Tidak dinyana, warung satenya disambut antusias. Banyak pembeli datang ke warungnya yang berada di Jalan Rembiga Nomor 4, Mataram. Di lingkungan tersebut pun sebenarnya banyak orang yang berjualan sate sapi rembiga, tetapi sate Sinasih disebut-sebut punya cita rasa sendiri di lidah pembeli.

Ia mulai sering diajak pameran kuliner oleh pemerintah daerah setempat. Untuk mengembangkan bisnisnya, Sinasih mulai mencari bantuan kredit dari bank dan dukungan dari swasta. Warungnya kian banyak menerima pesanan. Tidak hanya untuk dimakan di Lombok, tetapi juga ada yang minta dikirim ke Jakarta.

”Sate ini bisa tahan lama, sampai tiga hari. Ada juga pembeli yang minta dikirim ke Jakarta melalui paket. Ada pelanggan saya dari bank yang pesan 100-200 tusuk sate untuk rapat di Jakarta,” ungkap Sinasih yang menghidupi empat anaknya sendirian sejak suaminya berpulang enam tahun lalu itu.

Dari seporsi sate rembiga milik Hj Sinasih di Lombok, kami membawa kenangan tentang rasa pedas manis sapi NTB, berikut keuletan seorang manusia.

Kuliner Singkawang di Utara Jakarta

TREVACATION, Makanan Kalimantan memang belum terlalu populer. Namun belakangan ini cita rasa makanan dari pulau terbesar di Indonesia ini yang ternyata pekat dipengaruhi oleh Melayu, mulai banyak dicari oleh penikmatnya.

Makanya, Warung Rawit, sebuah restoran makanan Kalimantan yang terletak di daerah paling hits di Jakarta, yaitu Pantai Indah Kapuk, ini sering penuh antrean pengunjung. Seperti tertera di dalam menu yang menjadi makanan khas di restoran tersebut adalah makanan-makanan asal Singkawang. Kota kecil di Kalimantan Barat ini berjarak tiga jam perjalanan dari Pontianak, ibu kota Kalimantan Barat.

Meski didominasi etnis Tionghoa, makanan yang ada merupakan percampuran antara Melayu dan Tiongkok. Salah satunya Tim Ikan Jelawat Kalimantan. Bumbunya minimalis, hanya kecap asin dan bawang putih goreng. Ikan jelawat merupakan ikan khas Kalimantan dengan sisik yang besar yang justru menjadi kekhasan ikan ini. Sisiknya bisa dimakan. Teksturnya seperti menggigit keripik yang kriuk.

Selain ikan jelawat ada Pakis Cah Bawang Putih. Sayur pakis yang merupakan sayur yang kebanyakan tumbuh di hutan dan merupakan sejenis tanaman paku-pakuan.  Ditumis hanya dengan bawang putih sehingga tekstur pakis yang renyah saat digigit tetap terasa.

Wajib juga untuk mencicipi Gulai Keong Nenek Singkawang. Mencoba mengeluarkan daging keong tanpa bantuan tusuk gigi merupakan tantangan tersendiri. Mulut harus monyong untuk bisa menghisap dan mengeluarkan daging keong dari cangkangnya. Saat sudah berhasil keluar, sensasi lainnya adalah mengunyah daging keong yang lunak namun getas dengan bumbu gulai yang berbumbu banyak. Harus coba!

Pengunjung Warung Rawit yang bernuansa restoran keluarga ini, terkadang harus antre untuk mendapatkan tempat duduk, terutama di akhir pekan. Restoran ini berada di Ruko Cordoba, Jalan Bukit Golf Mediterania Blok E#10 Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Harga menu di kisaran Rp 8.000 sampai Rp 75.000.

Hidangan Nikmat Tahu Gejrot Asli Cirebon

TREVACATION, Kangen dengan tahu gejrot asal Cirebon yang sudah sangat populer atau nasi lengko yang bercita rasa manis dan gurih? Tak usah lagi menunggu kesempatan mampir di kota asalnya, karena kini Anda bisa datang ke Griya Kula yang berada di halaman parkir Kolam Renang Kompleks Bea Cukai, Jakarta Timur. Di resto milik Fajar Rahardjo ini Anda bisa sepuasnya menyantap makanan khas kota udang.

“Rasanya dijamin asli Cirebonan, karena semua makanannya ‘diimpor’ langsung via kereta ekspres Cirebon setiap pagi. Misalnya, tahu gejrot yang harus menggunakan tahu asli asal Ciledug, Cirebon. Meski di Jakarta ada tahu sejenis, tapi rasanya tidak akan pas,” urai Fajar dengan antusias.

Buat penggemar mi ada mi kocok yang berkuah kental dan harus disantap segera selagi hangat. Mi yang dipakai adalah mi kuning dengan taburan ayam suwir dan kucai. Sebelum disantap, tambahkan sedikit merica bubuk dan sambal. Hmmm, cita rasa mi jadi makin lekker!

Atau, bisa mencicipi bubur sop yang beken sebagai salah satu jajanan di malam hari. Jika Anda belum pernah mencicipi bubur sop ini, maka akan sedikit terkecoh. Bukan bubur yang ada di dalam mangkuk melainkan nasi lembek yang disiram dengan kuah sup. Memang bisa menghangatkan suasana malam yang dingin.

Begitu juga dengan nasi lengko yang harus disantap dengan satai kambing. Nasi putih yang pulen disandingkan dengan potongan tahu, tempe, dan daun kucai lalu disiram dengan bumbu kacang dan kecap asli Cirebon yang tidak terlalu manis namun gurih. Makin pas jika disantap dengan diiringi kerupuk yang juga dibawa langsung dari Cirebon.

Sebagai pendamping bersantap, sepoci teh dari Kasepuhan dengan gula batu dan jeruk nipis merupakan teman yang paling pas! Tertarik menyantap aneka kuliner Cirebon ini? Bisa datang langsung ke halaman parkir kolam renang Kompleks Bea Cukai Bojana Tirta, Jalan Bypass Rawamangun, Jakarta Timur. Harga menu yang ditawarkan di kisaran Rp 3.000 - Ro 25.000

Danau Lotus di Folres Kedua Terbesar di Dunia

TREVACATION, Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) terkenal dengan berbagai danau. Ada danau tiga warna Kelimutu di Kabupaten Ende, ada danau vulkanik yang aktif dengan nama Danau Sano Nggoang. Bahkan ada Danau Ranamese yang masuk dalam Taman Wisata Alam (TWA) Ruteng yang berada di pinggir jalan Transflores Borong-Ruteng.

Selanjutnya, ada sebuah danau di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur yang sangat berbeda dengan danau-danau lainnya. Danau itu adalah Danau Rana Tonjong yang merupakan danau lotus (Nelumbo nucifera) raksasa terbesar kedua di dunia setelah danau serupa di India.

Dalam dialek Manggarai Timur, 'rana' berarti danau dan 'tonjong' berarti lotus. Danau ini sudah berusia ratusan tahun. Di sekitar danau ini ada persawahan milik masyarakat Pota. Bahkan, bunga lotus ini bisa mekar tergantung air yang masuk ke danau.

Danau ini memiliki luas 2,5 hektar yang selalu mekar pada April-Juni setiap tahun. Bahkan biji lotus ini bisa dimakan oleh masyarakat setempat untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kadar protein dari biji lotus ini sangat tinggi. Warga sekitar danau ini yang berasal dari warga Kelurahan Pota selalu mengambil buahnya untuk dimakan bahkan anak-anak sekolah juga makan buah lotus.

Masjuban menjelaskan, wisatawan asing dan domestik sudah mengetahui bulan mekarnya lotus ini sehingga setiap tahun mereka berkunjung ke Pota untuk melihat keunikan dan keindahan lotus terbesar kedua di dunia ini.

“Saya yang selalu memandu wisatawan dan tamu yang ingin melihat keindahan danau lotus yang hanya ada di Kabupaten Manggarai Timur, khususnya di Kelurahan Pota, Kecamatan Sambirampas. Wisatawan asing sudah mengetahui lotus terbesar di wilayah ini. Mereka biasanya datang dari Labuan Bajo atau datang dari Maumere yang dibawa oleh pemandu-pemandu di Pulau Flores,” jelasnya.

Tim ekspedisi utara yang terdiri dari jurnalis dan pegawai dari beberapa instansi di Kabupaten Manggarai Timur berkunjung ke Danau Rana Tonjong di saat lotus itu sedang mekar. Satu danau yang terbesar di Manggarai Timur dipenuhi oleh bunga-bunga lotus. Tim ekspedisi yang dikhususkan untuk mempromosikan pariwisata di wilayah Utara dari Manggarai Timur takjub dengan keunikan dan keindahan lotus itu.

Tim ekspedisi yang dipandu oleh Staf Humas, Agustinus Supratman serta didampingi sejumlah tenaga harian lepas dari Dinas Pariwisata yang bertugas di Kecamatan Sambirampas berkali-kali memberikan keterangan yang berkaitan dengan keunikan danau tersebut.

Kurang lebih dua jam rombongan mengamati dan memotret keunikan bunga lotus yang sedang mekar. Yang ada dalam diri rombongan adalah keheranan dengan melihat dan menyaksikan sendiri bunga lotus raksasa itu.

“Satu danau besar tumbuh bunga lotus raksasa yang satu-satunya ada di Indonesia, dan berada di Flores. Selama ini wisatawan mancanegara dan domestik selalu mengunjungi danau tiga warna di Moni, Kabupaten Ende, Danau Sano Nggoang di Kecamatan Sano Nggoang, Manggarai Barat. Kini saatnya wisatawan asing mengunjungi danau lotus terbesar. Wisatawan juga dapat menikmati buah lotus yang bisa dimakan,” tutur Lasarus Gon, salah seorang tim ekspedisi Utara kepada KompasTravel.

Albertus Harianto, wartawan Flores Pos mengaku bangga dengan Kabupaten Manggarai Timur yang memiliki aset pariwisata masih tersembunyi. Berbagai obyek pariwisata tersedia di sembilan kecamatan yang belum dikelola dengan baik berupa wisata bahari, wisata gunung, agrowisata kopi dan cengkeh, serta air terjun.

Mantan wartawan Pos Kupang, yang sekarang menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Kabar NTT, Kanis Lina Bana menjelaskan, Kecamatan Sambirampas terkenal dengan Komodo Flores yang sudah diteliti oleh peneliti dari Amerika Serikat yang didampingi almarhum Rofino Kant beberapa tahun lalu.

Pada ekspedisi Komodo Flores di Pota, saya ikut meliput terkait dengan informasi adanya binatang ajaib di Kecamatan Sambirampas. Benar, bahwa beberapa tahun lalu, tim ekspedisi ini melihat dan meneliti keberadaan Komodo Flores di bagian utara Pulau Flores.

“Saya sudah sering menulis pariwisata di Kecamatan Sambirampas. Saya pernah didampingi Kepala Desa Nangambaur, Warkah Jalu untuk berkeliling di beberapa obyek wisata. Kini ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur di era kepala dinas yang baru dengan kerja sama bagian Humas untuk mengundang jurnalis dalam melihat, mengamati dan mempublikasi keunikan-keunikan dari Kecamatan Sambirampas,” jelasnya.

Anggota DPRD Manggarai Timur, Adven Peding mengatakan, butuh kerja sama berbagai pihak untuk mengembangkan dan mempromosikan keunikan-keunikan pariwisata di Manggarai Timur. Selama ini informasi tentang pariwisata di Manggarai Timur masih sangat minim sehingga dunia luar tidak pernah mengetahuinya.

“Saya pikir Manggarai Timur harus memiliki ikon atau branding dalam mempromosikan pariwisata. Jika tidak ada branding yang mengundang wisatawan maka pariwisata di Manggarai Timur tetap berjalan di tempat. Dinas Pariwisata harus kreatif dan memiliki inovasi dalam mengembangkan pariwisata di Manggarai Timur yang tak kalah jauh dengan kabupaten lain di Pulau Flores,” paparnya.

Di balik keunikan dan keindahan pariwisata di Manggarai Timur dibutuhkan infrastruktur jalan yang bagus menuju ke lokasi wisata. Contoh, jalan raya ke Pantai Mbolata, di Kelurahan Watunggene, Kecamatan Kota Komba yang ramai dikunjungi wisatawan domestik dari berbagai kabupaten di Pulau Flores belum diaspal. Ah, betapa uniknya pariwisata di Manggarai Timur.

Ayam Tangkap Menu Aceh Membakar Lidah

TREVACATION, Ayam tangkap sudah menjadi ikon kuliner Aceh. Bahkan saat  Aceh dilanda bencana tsunami, ayam tangkap mendapat julukan baru, yaitu ayam tsunami karena penyajiannya yang memang tampak porak poranda.

Ayam kampung yang dipotong kecil-kecil dibumbui dengan beragam rempah lalu digoreng hingga kering. Sesaat sebelum ayam matang dan kering, dimasukkan segenggam besar daun kari (salam koja), daun pandan, dan cabai hijau keriting.

Semuanya lalu digoreng bersamaan hingga matang dan kering. Hasilnya, ayam akan terbalut aroma dedaunan yang memang wangi. Menyantap dedaunan pun hukumnya wajib karena rempah inilah yang membuat ayam tangkap menjadi unik.

Di Jakarta, Anda bisa mencoba menu ayam tangkap di rumah makan Seulawah. Rumah makan sederhana ini berlokasi di Jalan Bendungan Hilir Raya Nomor 8, Jakarta Pusat (depan RSAL Mintohardjo).

Selain ayam tangkap, juga harus mencicipi mi aceh dan karee kameng alias kari kambing. Mi aceh dengan cara masak ala Tionghoa ini dibumbui dengan beragam bumbu yang tajam dan pedas. Tak heran setelah menyantapnya peluh akan mengucur membasahi dahi dan pelipis.

Bukan hanya sekadar mi, tetapi Anda bisa memadukannya dengan kepiting, udang, atau daging kambing. Bahan mana yang lebih lezat tentu tergantung preferensi pribadi Anda.

Begitu juga dengan karee kameng. Makanan wajib setiap perhelatan ini memang menantang lidah. Daging kambing yang digulai dengan bumbu menghasillkan cita rasa yang tajam dan pedas. Disantapnya bisa dengan nasi putih yang hangat dan pulen atau dengan roti jala.

Bahkan jiika disantap dengan roti jala, Anda bisa membersihkan mangkuk bekas karee kameng dengan menyapunya menggunakan roti jala hingga benar-benar tak bersisa. Usai menyantapnya dijamin Anda juga akan basah kuyup. Apalagi jika disantap dengan sambal ganja yang terbuat dari udang kali yang diulek bersama daun jeruk, bawang merah, cabai rawit merah, dan kucuran air jeruk nipis. Rasa asam pedasnya mampu membuat mata merem melek kepedasan.

Selagi menunggu, jangan lupa untuk mengunyah timphan. Kue khas Aceh ini terbuat dari labu kuning yang dihaluskan, lalu diberi isian pisang raja yang harum. Kemudian adonan tersebut dibungkus dengan daun pisang muda. Jika hanya menyantap satu pasti tak akan puas. Soal harga tidak perlu khawatir. Harga menu di Seulawah relatif terjangkau yaitu di kisaran Rp 3.000 sampai Rp 65.000.

Makanan Unit Bolu Peuyeum

TREVACATION, Kue bolu yang biasa dijajakan selama ini biasa terbuat dari bahan terigu dengan topping keju atau cokelat. Namun kue bolu yang satu ini dijamin anti mainstream jika dibandingkan dengan kue bolu kebanyakan.

Ya, bolu peuyeum seuhah namanya. Bolu yang satu ini berbahan dasar dari peuyeum atau tape. Selain itu topping bolu tersebut ditaburi abon sapi pedas yang membuat perpaduan rasa manis pedas terasa di lidah.

"Kita sengaja kasih nama peuyeum seuhah karena bolunya itu terbuat dari peuyeum dan rasanya seuhah atau pedas," ujar salah satu pemilik Kedai Umbi2an, Danti Maharanti di Bogor, beberapa waktu lalu.

Danti menuturkan, kue bolu peyeum seuhahnya tersebut ada tingkat kepedasaanya. Anda yang tidak suka pedas tidak perlu merasa khawatir.

"Kita ada level original, lalu level seuhah  atau pedas, dan level seuhah pisan atau pedas banget sesuai selera lah pokoknya," ujarnya di Kedai Umbi2an yang berlokasi di Jalan Bangbarung, Kota Bogor.

Danti melanjutkan, di kedainya tidak hanya menyuguhkan kue bolu peuyeum seuhah saja. Nun bolu dengan berbagai macam rasa bolu dan aneka topping juga tersedia.

"Kita ada bolu yang bahan dasarnya ubi. Lalu yang topping-nya abon, keju, kismis dan mix fruits juga ada," bebernya.

Satu bolu berukuran 24x10 cm dihargai Rp 40.000. Cukup terjangkau bagi seluruh kalangan masyarakat.

"Bolu peuyeum seuhah ini cuma ada di Kedai Umbi-umbian. Di tempat lain saya kira belum ada," katanya.

Bolu peuyeum seuhah ini cocok dimakan saat acara keluarga atau saat liburan. Atau juga bisa dijadikan oleh-oleh menarik untuk sanak saudara atau teman.

Kopi Kawa Daun dari Sumatra Barat

TREVACATION, Kopi menjadi minuman favorit masyarakat. Selain rasanya yang enak, kopi juga bermanfaat sebagai pengusir kantuk dan tepat diminum di saat santai sore bersama teman-teman. Biasanya, kopi berasal dari biji kopi yang diolah menjadi kopi bubuk. Lalu bagaimana jika ada kopi yang diolah dari daunnya dan bukan bijinya? Daun kopi ini direbus hingga berwarna kecoklatan kemudian ditambahkan susu atau gula. Sebelumnya daun kopi ini diasap (di-sangai) terlebih dahulu. Minuman asal Sumatera Barat ini dikenal dengan sebutan Kopi Kawa Daun. Harganya relatif terjangkau. Satu gelas kopi kawa dijual dengan harga lima ribu sampai 10 ribu rupiah saja.

Minuman ini juga disajikan dengan cara yang unik. Batok kelapa digunakanan sebagai penggati gelas, sementara sebagai tatakannya digunakan potongan bambu. Minuman tradisional ini juga memyimpan cerita sejarah pada masa penjajahan Belanda. Seperti dilansir dari infosumbar.com, Senin (20/4/2015), pada zaman kolonial belanda, minuman kopi tidak dapat dinikmati oleh kaum pribumi karena hampir seluruh hasil kopi diekspor ke negeri koloni. Untuk memenuhi keinginan meminum kopi itulah masyarakat mengambil daun kopi kawa dan mengolahnya menjadi minuman yang diminum menggunakan batok kelapa. Hingga saat ini, cara meminum kawa daun masih sama, yaitu menggunakan batok kelapa.

Rasa yang dimiliki kawa daun ini adalah perpaduan rasa teh dan kopi. Anda dapat menikmati kawa daun ini bersama makanan khas lainnya seperti kue bika, lemang, dan durian. Jika Anda berkunjung ke Sumatera Barat Anda dapat mencoba nikmatnya sensasi minum kopi seperti pada masa penjajahan. Bayangkan, betapa nikmatnya menikmati kopi ini sambil menikmati pemandangan alam terbuka yang indah

Mencoba Ramen Terabaik Di Jakarta

TREVACATION, Ramen menjadi makanan paling populer tahun ini. Restoran Jepang dan Korea yang menyediakan ramen sebagai menu andalannya menjamur di Jakarta. Makanan berbahan dasar mie ini memiliki cita rasa yang gurih dan pedas. Bahkan, dibeberapa restoran menyediakan ramen dengan tingkatan level kepedasannya. Dilansir dari Qraved.com, Senin (20/4/2015), inilah 4 Ramen dengan rasa dan penyajian terbaik di Jakarta. (mit/ret)

1. Marutama Ra-Men

Berikut adalah 6 restoran Jepang di Jakarta yang menyajikan menu ramen pilihan terenak.
Ini merupakan ramen pertama yang dikenal di Indonesia. Ramen marutama ini menawarkan pengalaman bagaimana nikmatnya ramen seperti rasa aslinya di negeri sakura. Ramen ini dilengkapi dengan telur, seafood, rumput laut dan daun bawang. Penyajiannya seperti buatan rumah, kemudian dilengkapi dengan tamago yang lumer di mulut. Ramen ini menjadi salah satu ramen terenak yang dapat membuat Anda ketagihan.

2. Ippudo

Foto: Dok. Ippudo Indonesia
Ippudo mulai ada di Jepang sejak tahun 1985. Diracik oleh Shigemi Kawahara, rajanya ramen sekaligus pemilik perusahaan international Chikaranomoto. Beliau memiliki 80 restoran di Jepang dan 40 restoran di seluruh dunia termasuk New York, Sydney, Hong kong, China, Indonesia, Phillippines, Singapore, Taiwan, Thailand, dan Korea Selatan. Ippudo mulai terkenal semenjak diluncurkannya program Ramen Chef di TV Tokyo. Ippudo menjadi pemenang sebanyak 3 kali, yaitu pada tahun 1995-1998. Ramen Ini tidak diragukan lagi kelezatannya. Jika Anda berminat mencicipinya, ramen ini dapat anda temukan di Pacific Place Mall, Lantai 5, Jl. Jenderal Sudirman, SCBD, Jakarta.

3. Ramen Hachimaki

Foto: Dok. Hakata Ikkousha
Ramen Hacimaki merupakan ramen dengan harga yang bersahabat. Ramen ini sangat pas untuk mahasiswa dan pelajar. Rasanya yang lezat dan gurih dilengkapi dengan katsu dan telur membawa Anda pada pengalaman makan dengan nuansa Jepang.

4. Ichidaigen Ramen

Ichidaigen Ramen adalah restoran pertama di Jakarta yang mengumumkan bahwa mereka restoran jepang 100% HALAL. Ramen ini menggunakan daging dan telur dengan kualitas yang tinggi. Rasanya yang lezat membuan Anda tidak akan melupakan ramen Ichidaigen ini

Surga Orang Bajau di Kalimantan

TREVACATION, Memiliki kehidupan yang jauh dari kata modern tidak membuat orang di Suku Bajau menyerah untuk mencari nafkah. Mereka yang terkenal dengan sebutan "Gipsy Laut" tinggal di perahu kecil, berlayar siang dan malam bersama arus untuk mencari nafkah dengan alat tangkap mereka.

Dulu, mereka tinggal bersembunyi di suatu tempat terpencil di desa yang mengambang di atas terumbu karang. Namun, kini banyak yang mulai merambah bagian pantai dan tinggal di pulau-pulau kecil sambil menjual ikan dan mengembangkan pengetahuan mereka tentang laut.

Pada dasarnya mereka tidak memiliki pengetahuan tentang membaca dan menulis, mereka banyak belajar mengenai bagaimana caranya memancing dan menangkap ikan. Tanpa memandang usia, semua orang membantu untuk menemukan tempat untuk menangkap ikan. Anak-anak muda terus berada di dalam kapal belajar bagaimana caranya menyelam atau berenang, sedangkan mereka yang telah berusia 8 tahun sudah mulai berburu.

Kebanyakan orang Bajau lahir, hidup, dan mati di tanah mereka, sehingga mereka benar-benar menghargai tempat tinggal mereka, surga mereka untuk hidup. Perasaan damai dan tenang muncul di tempat ini dari mereka yang hidup hanya untuk air berbeda dari orang-orang di tempat lain pada umumnya.

Seorang fotografer asal Perancis, Réhahn mencoba mengabadikan keindahan tempat ini bersama dengan orang-orang gipsy laut seperti yang dilansir dari Boredpanda, Sabtu (28/3/2015)

Wisata Menunggang Gajah di Bengkulu

TREVACATIONPetualangan alam bebas semakin digemari masyarakat. Bengkulu yang memiliki kawasan hutan liar memberikan tawaran wisata pemacu adrenalin berkonsep ecotourism atau ekowisata. Ini merupakan kegiatan perjalanan petualangam ke daerah terpencil dengan tujuan untuk menikmati dan mempelajari alam, sejarah, dan budaya di suatu daerah. Pola wisata ini dikembangkan untuk membantu perekonomian masyarakat lokal dan mendukung pelestarian alam.

Desa Sukabaru adalah salah satu desa yang berada di Kecamatan Putri Hijau Kabupaten Bengkulu Utara yang memiliki keindahan alam yang luar biasa. Hal ini dikarenakan desa ini merupakan salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat yang merupakan habitat asli bagi satwa liar, yang salah satunya adalah Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus).

Menurut penanggung jawab program pengembangan ekowisata Seblat, Martian Sugiarto, pengembangan model ekowisata berbasis masyarakat di Desa Sukabaru melalui program Tropical Forest Conservation Action (TFCA) For Sumatera oleh Konsorsium Ulayat diyakini merupakan solusi yang paling tepat. Praktik yang dilaksanakan ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat lokal dan berkontribusi terhadap pengamanan kawasan. Saat ini di Desa Sukabaru telah terbentuk sebuah forum ekowisata yang terdiri dari pemerintahan desa, kelompok pemuda Karang Taruna, dan Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KSM). Forum inilah yang menjadi pelaku utama pengelola ekowisata di Desa Sukabaru.

Paket ekowisata seblat yang ditawarkan bagi wisatawan yang berkunjung berbentuk wisata petualangan, seperti jelajah hutan menyusuri rimba yang kondisi tutupan hutan masih alami sehingga banyak sekali ditemukan flora dan fauna yang jarang sekali ditemukan di tempat lain. Konsep jelajah hutan juga menawarkan berbagai variasi. Ada yang melakukan jelajah dengan berjalan kaki dan ada juga yang menggunakan gajah sebagai transportasi untuk melakuan pertualangan.

“Selain jelajah hutan wisatawan, (pengunjung) juga bisa menikmati petualangan susur sungai. Pertualangan ini juga sangat menarik untuk dilakukan. Pengunjung bisa menyusuri sungai yang jernih dengan menggunakan perahu kecil, yang oleh warga sekitar disebut ketek, sembari menikmati pemandangan asri yang disajikan di sepanjang perjalanan,” ujar Martian.

Kegiatan menarik lain yang bisa dilakukan adalah berinteraksi dengan gajah sumatera, memberi makan, memandikan dan foto bersama dengan gajah-gajah yang telah terlatih. Sedangkan untuk para penggiat alam bebas, ekowisata seblat juga telah menyediakan lokasi camping ground yang tentu saja lokasi ini juga menawarkan keindahan alam yang begitu menarik.

Geiser Indah Buatan Manusia

TREVACATION, Geiser atau mata air yang memancarkan air bersuhu panas merupakan salah satu fenomena yang langka dan hanya terjadi pada suatu kondisi spesifik tertentu. Namun kenyataannya, manusia dapat memunculkan mata air panas tersebut. Bahkan, geiser yang terletak di Washoe County, Nevada, di Amerika Serikat, memiliki keanggunan dari warnanya yang rupawan.

Nyatanya, semburan mata air tersebut tak hanya terjadi secara alamiah. Memang pada umumnya, geiser ditemukan di dekat daerah gunung berapi aktif yang memiliki sumber air panas bawah tanah yang melimpah.

Air bawah tanah atau air permukaan yang ada di dalam tanah akan menjalin kontak dengan bebatuan panas sehingga membuat air tersebut mendidih dan keluar melalui ruang yang nantinya disebut dengan geiser.

Kegiatan manusia juga melahirkan sejumlah geiser. Seperti geiser di Nevada tersebut diciptakan pada tahun 1916 saat pengeboran sumur. Sebelumnya, sumur berfungsi normal selama beberapa dekade, tetapi secara tiba-tiba pada tahun 1960-an air berubah menjadi seperti dipanaskan, bahkan menyembur ke permukaan.

Mineral terlarut di dalam air ikut terbawa keluar dan menciptakan gundukan dengan warna-warni yang amat menarik. Warna-warna tersebut disebabkan oleh ganggang termofilik yang hidup di dalam air sumur.

Mata air panas tersebut dapat menghempaskan air hingga setinggi 5 meter. Terdapat sekitar 30-40 gundukan yang membentuk kolam di sekitaran geiser dengan total luas sekitar 74 hektar. Hingga saat ini, gundukan tersebut masih terus-menerus meninggi dan membesar

Pulau Banyak di Sumatera Utara Jadi Idola Turis Inggris

TREVACATION, Siapa sangka diantara ribuan pulau indah yang ada di Indonesia, ada satu pulau yang paling digemari oleh turis dari Inggris. Bukan, bukan Bali! Namanya adalah Pulau Banyak di Sumatera Utara.

Pulau ini masuk dalam daftar pulau terbaik versi survei pembaca The Guardian. Berjarak sekitar 6 jam perjalanan dengan mobil atau bus dari Medan menuju Singkil, kemudian dilanjutkan dengan empat jam perjalanan dengan kapal feri. Hasilnya, pulau yang hening, pantai berpasir yang bersih, dan air pantai yang indah. Sungguh surga duniawi!

Bagi para surfer, Pulau Banyak juga terkenal dengan ombaknya yang cantik namun menantang. Sementara, pemandangan bawah lautnya menawarkan kealamian yang belum terjamah banyak turis dan tangan jahil. Bila beruntung, Anda bahkan akan bertemu kawanan lumba-lumba di pagi hari atau senja.

Sementara itu, pulau lainnya yang masuk dalam daftar survei adalah Pulau Thinnakara, Long Island dan Andaman di India, Virgin Island dan Malapascua di Filipina, Cham di Vietnam, Koh Rong Samloem di Kamboja, Baros di maldives, serta Pulau Tioman dan Pulau Pom Pom di Malaysia

Sendratari Mihing Manasa

TREVACATION, Alunan suara suling balawung melengking memecah heningnya malam seraya mengawali sendratari kolosal Dayak, Mihing Manasa. Sesosok perempuan beruban berjalan terbungkuk menggunakan tongkat. Suaranya yang parau dari bibirnya yang keriput terdengar memanggil-manggil Bowak, anaknya.

Konon dikisahkan, Bowak dan masyarakat yang tinggal di sekitar Sungai Kahayan, Desa Tumbang Danau, kini masuk wilayah Kecamatan Mihing Raya, Kabupaten Gunung Mas, Kalimantan Tengah (Kalteng), hidup dalam keterbatasan dan serba berkekurangan.

Suasana gelap dan penderitaan itu diilustrasikan melalui gerakan perlahan dan berat oleh enam penari putri. Rintihan dan tatapan mata yang kosong juga melengkapi tarian awal pembuka drama tari berdurasi 60 menit itu. Mereka pun sama-sama mencari sosok Bowak, pemuda yang ulet dan rajin bekerja, tapi tiba-tiba menghilang dari desa.

Selama menunggu kehadiran Bowak, warga masyarakat tetap bekerja untuk berusaha memenuhi kebutuhan hidup sehari- hari dengan berburu dan mengumpulkan hasil hutan. Kedekatan suku Dayak dengan alam terutama hutan dan sungai ditarikan dengan gerakan berburu, seperti memanah, menyumpit, serta menombak, oleh para penari putra.

Beberapa saat kemudian, iringan musik semakin cepat. Sorot lampu panggung semakin terang dan cahayanya berputar lincah. Bowak yang telah lama menghilang datang dari kahyangan atau disebut lewutelu dengan membawa sebuah mihing, yaitu alat ajaib pengumpul harta.

Sebelumnya, para dewa di kahyangan membawa Bowak dari bumi karena tertarik keuletan bekerjanya. Selama di kahyangan, para dewa menguji keuletan dan ketangkasannya. Dengan segera, Bowak disegani di kahyangan karena berhasil berburu burung tingang dan ikan lele dalam jumlah banyak. Selama di kahyangan itulah Bowak melihat bagaimana cara dewa-dewa membuat mihing yang terbuat dari kayu, bambu, rotan, batu, dan tanaman merambat.

Sekembalinya dari kahyangan, mihing buatan Bowak berhasil mendatangkan banyak harta berupa emas dan intan. Bowak membagikan semua harta itu kepada masyarakat. Akan tetapi, harta kekayaan yang datang ke dalam mihing Bowak itu ternyata berasal dari kahyangan sehingga murkalah Raja Intan Tunggal Sahawung. Perang adu ketangkasan antara sang raja dan Bowak pun terjadi.

Raja Intan Tunggul Sahawung lalu mengutuk mihing itu menjadi alat penangkap ikan. Meski demikian, ikan-ikan yang ditangkap dari mihing tetap berlimpah dan dapat memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. ”Bowak adalah tokoh inspiratif yang mengabdikan dirinya bagi masyarakat sekitar,” kata Sutradara Sendratari Mihing Manasa Arbendi I Tue yang juga memerankan tokoh Bowak.

Drama tari yang dipentaskan oleh 45 penari dan 10 pemusik itu digelar Sabtu (28/3) malam di halaman Museum Balanga, Palangkaraya, Kalteng, dan berhasil menyedot 300-an penonton. Para penari dari berbagai usia, yang paling muda berusia 4 tahun hingga 30-an tahun.

Pada 25 April 2014, sendratari kolosal Tambun dan Bungai juga digelar di Palangkaraya. Pergelaran itu diinisiasi Bank Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kota Palangkaraya dan para pelaku usaha bidang perhotelan. ”Kami berencana membuat pergelaran setiap tiga bulan sekali untuk melestarikan kebudayaan suku Dayak,” kata Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng Yuel Tanggara.

Sendratari Mihing Manasa dengan Koreografer Benny M Tundan disajikan oleh delapan sanggar seni Palangkaraya, yaitu Sanggar Marajaki, Betang Batarung, Intan Manuah, Tunjung Nyaho, Riak Renteng Tingang, Teluh Tabela, Pajawan Tingang Production, dan Soul Break.

Asisten III Sekretariat Daerah Kalteng I Ketut Widhie dalam pembukaan sendratari menilai kebudayaan Dayak memiliki nilai budaya yang tinggi dan harus dilestarikan. ”Saat ini ada banyak budaya asing yang masuk ke dalam negeri kita. Jangan sampai kebudayaan kita makin terpinggirkan,” katanya.

Sejumlah penonton mengapresiasi pergelaran sendratari ini. ”Keren banget. Kalau bisa pergelaran diadakan setiap bulan karena bisa menjadi hiburan bagi masyarakat di akhir pekan,” kata Titi yang datang bersama Edi, calon suaminya.

Yuel menambahkan, pemda menyediakan anggaran Rp 500 juta untuk membiayai dua kali pergelaran sendratari pada 2015, yaitu pada Maret dan Agustus. Pemerintah juga sedang menyiapkan pusat seni yang mulai dibangun dengan dana APBD Rp 1,5 miliar dan APBN Rp 7,5 miliar.

Taman Bumi Toba

TREVACATION, Smith (28) asyik memotret gugusan bebatuan di tepi jalan berkelok kawasan wisata Tuktuk Siandong, Pulau Samosir, Sumatera Utara. Lensa kameranya sesekali difokuskan lebih dekat mengabadikan struktur bukit batu berwarna putih dengan sisi-sisi runcing. Di bawah kelokan bukit, muka air Toba jernih memantulkan bayang awan gelap. Mendung tak memupus keelokan danau.

”Saya dengar cerita tentang keindahan Toba sejak remaja. Namun, baru-baru saja tahu keunikan geologinya,” ujar pelancong asal Colorado, Amerika Serikat, itu pada pertengahan Februari 2015, di Samosir.

William Marciell (30), pelancong yang turut dalam rombongan Miranda, mengatakan, tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan mengoleksi foto-foto situs geologi hasil morfologi jutaan hingga puluhan ribu tahun silam itu. Dia bangga bisa menyaksikan ”saksi bisu” kedahsyatan letusan gunung yang memengaruhi kehidupan dunia itu.

”Sejarah letusannya bahkan lebih dahsyat dari supervolcano Yellowstone. Tidak hanya geologinya, kekayaan budaya dan masyarakatnya juga sangat menarik,” kata William.

Salah satu contoh jalinan antara bentang alam dan peradaban manusia di sekitar Toba dapat dipelajari dari struktur bebatuan Kubah Lava Riodasit yang diamati rombongan pelancong asal AS itu. Batuan lava hasil ekstrasi lelehan magma ke permukaan hingga membentuk kubah lava itu ternyata digunakan oleh masyarakat setempat untuk menyusun Batu Persidangan Makam Raja Siallagan di Samosir.

Bebatuan menjadi elemen sakral bagi masyarakat Toba sejak dahulu. Sutrisno Siallagan, Kepala Desa Siallagan, menuturkan, nenek moyang mereka begitu meluhurkan batu sehingga semua kubur orang terhormat disimpan dalam batu ukir.

Peradaban yang berkembang juga menyesuaikan gejala alam. Menyusuri perkampungan adat di Samosir, masih terlihat rumah-rumah adat Batak kuno terbuat dari kayu, dengan bentuk dinding samping seperti lunas (balok memanjang di dasar perahu) dan ditopang tiang-tiang terikat kuat satu-sama lain. Bangunan diletakkan di atas fondasi batu tanpa semen.

Menurut ahli geologi dari tim Percepatan Geopark Sumatera Utara, Gagarin Sembiring, struktur rumah itu sesuai dengan kondisi geologi Samosir yang rawan bencana gempa bumi tektonik, dan tsunami danau.

Tiga pilar taman bumi

Dari sudut pandang pariwisata, pertautan unsur alam, manusia, dan budaya dalam satu ekosistem ini menjadi fenomena menarik. Untuk itu, sejak 2012, banyak pihak mendorong agar Danau Toba dimasukkan dalam pengelolaan taman bumi global (global geopark network). Dalam konsep taman bumi manusia diajak menelusuri lorong waktu untuk memahami proses pembentukan bumi dengan terus menjaga warisannya.

Pada 2014, Danau Toba diajukan dalam pengelolaan Taman Bumi Kaldera Toba ke Organisasi
Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO). Hasil letusan supervolacano yang terakhir terjadi 74.000 tahun silam ini tak sekadar menyimpan warisan kebumian yang berharga, tetapi memuat pula peradaban dengan keragaman budaya yang berorientasi pada bentang alamnya.

Pengajuan ke UNESCO ini setelah pemerintah era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkan kawasan ini sebagai Taman Bumi Kaldera Toba. Di Indonesia, hanya kawasan Gunung Batur di Bali yang sudah terdaftar dalam jaringan taman bumi global. UNESCO akan mengambil keputusan untuk Taman Bumi Kaldera Toba pada September 2015 seusai pengecekan lapangan.

Pemerintah Provinsi Sumut pun telah membentuk tim Percepatan Taman Bumi Kaldera Toba. Selain unsur pemerintah, dalam tim itu ada ahli geologi, akademisi, budayawan, dan perwakilan tujuh kepala daerah yang berada pada garis batas (deliniasi) kawasan Kaldera Toba. Tujuh daerah itu adalah Kabupaten Simalungun, Toba Samosir, Karo, Humbang Hasundutan, Samosir, Dairi, dan Tapanuli Utara.

Lalu, konsep macam apa yang disusun melalui peta jalan (roadmap) Taman Bumi Toba? Ketua Tim Percepatan Geopark Kaldera Toba, Sabrina mengatakan, lewat pengembangan geopark, nilai ekonomi di masyarakat akan ditingkatkan, selaras kegiatan konservasi dan pengembangan ilmu pengetahuan berkelanjutan dalam kawasan. ”Geopark adalah bentuk apresiasi pada semua nilai dan makna keunikan, kelangkaan, dan estetika warisan geologi. Di dalamnya terdapat keragaman geologi, keragaman biologi, dan keragaman budaya,” kata Sabrina yang juga menjabat Pelaksana harian Sekretaris Daerah Provinsi Sumut.

Harmoni antarelemen ini ditopang pembangunan berkelanjutan yang memungkinkan masyarakat merasakan manfaat pengembangan taman bumi. Konsep ini berbeda dari pengelolaan warisan budaya yang semata berkiblat pada konservasi.

Artinya, kata Sabrina, semua program pendukung pengembangan taman bumi harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Apalagi, dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2014, areal Danau Toba ditetapkan menjadi Kawasan Strategis Nasional. ”Muaranya pariwisata, tetapi berbasis konservasi ekosistem,” ujarnya.

Dalam peta jalan pengembangan Taman Bumi Kaldera Toba, kawasan deliniasi dibagi menjadi empat geoarea. Pembagian ini mengacu pendekatan teknis pusat-pusat letusan atau evolusi letusan pembentuk kaldera Toba sesuai penelitian Chesner dan Rose yang dipublikasikan pada 1991.

Empat geoarea itu adalah Kaldera Porsea, Kaldera Haranggaol, Kaldera Sibandang, dan up doming (pengangkatan) Samosir. Setiap geoarea mencakup sejumlah situs sejarah alam (geosite) yang sejauh ini tercatat sebanyak 55 tempat.

Pemprov Sumut juga membentuk badan khusus pengelola Taman Bumi Kaldera Toba. Badan pengelola ini nanti akan berstatus independen dengan pengawasan dari pemerintah daerah. ”Pengesahannya tinggal menunggu surat keputusan gubernur,” ujar Sabrina.

Semua Satuan Kerja Perangkat Daerah juga didorong bersinergi menggulirkan program mendukung konservasi dan pemberdayaan pariwisata di sekitar Toba. Dalam konsep geowisata, pemasaran pariwisata taman bumi juga didukung daerah-daerah di sekitarnya. Untuk itu, seluruh kawasan yang terkoneksi dibagi dalam empat zona, yaitu zona tangkapan, penerima, pendukung, inti, dan pelindung.

Zona tangkapan terdiri dari Bandara Kualanamu dan Silangit di Tapanuli Utara. Zona penerima merupakan kota-kota tujuan wisatawan seperti Medan, Berastagi, Sidikalang, Pematang Siantar, Balige, Porsea Siborong-borong, dan Dolok Sanggul. Zona pendukung seperti Parapat, Haranggaol, Tongging, Pangururan, dan Tomok. Zona inti adalah empat geoarea, sedangkan zona lindung adalah hutan lindung di sekitar Toba.

Penggiat taman bumi Toba yang juga mantan Bupati Tapanuli Utara, RE Nainggolan, mengingatkan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci pengembangan taman bumi. Kekayaan seni dan budaya yang berkembang di masyarakat sekitar Toba harus terus dilestarikan sehingga menjadi etalase pariwisata yang menarik. Pemerintah bersama masyarakat mesti meningkatkan pelayanan wisata.